Allah berfirman :
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ
ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia
tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." (QS.
27:88)
14 abad lampau seluruh manusia
menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur'an disebutkan
gunung itu bergerak. Ketika ayat itu turun, banyak manusia (kaum Qureis) berkerut
keningnya. Mengapa tidak? Bagaimana mungkin gunung-gunung yang jelas berdiri
kokoh itu dikatakan berjalan? Apalagi berjalan laksana awan! Jangankan orang
yang sezaman dengan Rasulullah, bahkan di zaman sekarang pun masih banyak
orang-orang yang tidak mengetahui fakta ini.
Tidak mustahil bila banyak kaum
kafir Quraisy mencemooh Rasulullah. Menurut pandangan mereka apa yang tertera
dalam Al-Qur’an itu tidak logis dan bertentangan dengan apa yang mereka amati
dengan mata telanjang.
Akan tetapi, kaum Muslimin yang benar-benar
mengimani Allah dan Rasulullah serta meyakini Al-Qur’an termasuk sebagai aksioma
kehidupan dan sumber kebenaran tetap mempercayainya, sekalipun pengetahuan
belum bisa menjangkau pernyataan Al-Qur’an yang sangat ilmiah tersebut. Mereka
menyadari bahwa kebenaran ilmu yang mereka pegang terlalu naif bila
dibandingkan dengan kebenaran ilmu Allah Yang Maha Mengetahui.
Jika diperhatikan dengan seksama,
nyatalah ayat tersebut secara implisit mengandung keterangan ilmiah tentang
sebuah persoalan yang amat penting dalam sejarah ilmu pengetahuan modern.
Sebuah revolusi ilmiah yang turut menentukan perkembangan sains dan teknologi
masa sekarang.
Gerakan gunung-gunung ini
disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti
mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk
pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener
mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal
bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah
ketika mereka bergerak saling menjauhi.
Para ahli geologi memahami
kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah
kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan
yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang
ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea.
Daratan ini terletak di kutub selatan.
Sekitar 180 juta tahun lalu,
Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang
berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang
meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah
Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India.
Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi
daratan-daratan yang lebih kecil.
Benua-benua yang terbentuk
menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara
terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga
menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di
Bumi.
Pergerakan kerak Bumi ini
diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para
ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:
Kerak dan bagian terluar dari
magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang
disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil.
Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak
pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan
benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun.
Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan
pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic
menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe;
General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)
Ada hal sangat penting yang perlu
dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan
gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga
menggunakan istilah "continental drift" atau "gerakan mengapung
dari benua" untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of
Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)
Tidak dipertanyakan lagi, adalah
salah satu kejaiban Al Qur'an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja
ditemukan oleh para ilmuwan, dan telah dinyatakan dalam Al Qur'an lebih dari 14
abad silam. Dan hal ini sekali lagi juga menunjukan bahwa Al-Qur’an adalah
firman / kalam Dzat Yang Menciptakan alam semesta, bukan sebagaimana tuduhan
orang orang kafir yang anti agama yang menuduh bahwa Al-Qur’an adalah filsafat
atau hasil oleh pikir Nabi Muhammad dengan ambisi politik bangsa arabnya
(Arabisasi). Ayat ini tidak ada kaitan sama sekali dengan tujuan tujuan
politik, bahkan ayat ini tidak mampu difahami hampir kebanyakan manusia dizaman
itu.
Dari sini masihkah kita mau
mengkonsumsi berita berita tuduhan keji terhadap Islam ?. Apakah kita akan
mempercayai ulasan ulasan yang seakan mempesona dan memperdayakan namun
berujung pada pandangan skeptic (miring dan buruk) terhadap islam dan orang
orang yang berpegng teguh pada ajaran Islam? bahkan tidak segan mereka berdusta dan membuat skenario intelegensi tingga dalam rangka membuat buat berita menjelekan Islam.
Masihkah kita meragukan bahwa
Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup manusia agar hidup tenang didunia
dan selamat diakhirat kelak? Masihkah kita ikut ikutan mengekor kepada kaum
yang dari awalnya mereka memang tidak beragama dan jelas jelas menjajah negeri
kita berabad abad ? Masihkah kita mau mengekor kajian kajian mereka bahwa
dakwah kepada Islam itu adalah ambisi politik orang orang arab (Arabisasi)?
Siapa yang mengajarkan kita arti pentingnya melawan penjajahan diberbgai
penjuru bumi, dan siapa yang mengajarkan penjajahan itu sah selama mampu
merekonsiliasi daerah yang dijajah ? bandingkan dua pertanyaan terakhir tersebut !
Sadarlah wahai saudaraku sebelum
ajal menjemput dan kita masih dalam kesimpulan kesimpulan yang keliru yang dapat
menggoyahkan iman kita.
Semoga bermanfaat
Al-Ittiba’
Mittiba.blogspot.com
Komentar
Posting Komentar