Sesungguhnya
nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya sangat banyak, tidak
terhitung jumlahnya. Kemana saja seorang hamba mengarahkan pandangannya, dia
akan melihat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dihadapannya. Kenikmatan Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah diperoleh hamba-Nya semenjak dia berupa setetes air
mani yang bercampur dengan sel telur yang bergantung di dalam rahim ibunya.
Kemudian selalu mengiringinya sampai ajal menjemputnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﻭﻣَﺎ ﺑﻜُﻢْ ﻣﻦْ ﻧﻌْﻤَﺔٍ ﻓﻤِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺛﻢَّ ﺇﺫَﺍ ﻣﺴَّﻜُﻢُ ﺍﻟﻀﺮُّ ﻓﺈِﻟَﻴْﻪِ ﺗﺠْﺄَﺭُﻭﻥَ
“Dan apa saja nikmat yang ada pada
kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan,
maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. [An-Nahl/16:53]
Bahkan jika manusia hendak menghitung nikmat-Nya,
maka dia tidak akan mampu menghitungnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﻌُﺪُّﻭﺍ ﻧِﻌْﻤَﺔَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﺎ ﺗُﺤْﺼُﻮﻫَﺎ ۗ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻟَﻐَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [an-Nahl/16:18]
Oleh
karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hak yang menjadi kewajiban para
hamba-Nya. Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut harus diutamakan daripada
hak-hak sesama makhluk. Diantara yang menjadi hak Allah Azza wa Jalla dan
menjadi kewajiban para hamba yaitu memiliki adab yang baik kepada Allah Azza wa
Jalla . Maka wajib bagi seorang hamba memiliki adab-adab sebagai berikut:
- Iman Dan Tidak Mengingkari Keberadaan-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan
hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya dan kepada perkara-perkara yang wajib
diimani. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻳﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺁﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻰٰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻧْﺰَﻝَ
ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞُ ۚ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِ
ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻠَﺎﻟًﺎ ﺑَﻌِﻴﺪًﺍ
“Wahai
orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah ,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [an-Nisâ’/4:136]
Maka sepantasnya seorang hamba beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, meyakini kebenaran firman-Nya dan tunduk terhadap perintah
dan larangan-Nya. Sungguh tidak beradab ketika ada seorang hamba yang ingkar
dan menentang-Nya. Allah Azza wa Jalla mencela orang-orang yang ingkar
kepada-Nya dengan celaan yang keras, sebagaimana firman-Nya:
ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ ﻓَﺄَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ ۖ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤِﻴﺘُﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴِﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah,
padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu
dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian hanya kepada-Nya-lah kamu
dikembalikan?” [al-Baqarah/2: 28]
Termasuk beriman kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala adalah meyakini keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam
rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya
sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Demikian juga termasuk syarat iman adalah menjauhi
syirik, karena syirik itu menghapuskan amal. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻭَﺇِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﻟَﺌِﻦْ ﺃَﺷْﺮَﻛْﺖَ ﻟَﻴَﺤْﺒَﻄَﻦَّ ﻋَﻤَﻠُﻚَ ﻭَﻟَﺘَﻜُﻮﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [az-Zumar/39:65]
- Syukur Dan Tidak Kufur Nikmat.
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala
kepada hambanya sangat banyak, oleh karena itu kewajiban seorang hamba untuk
mensyukurinya adalah dengan mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala bukan dari usaha semata, memuji-Nya dengan lidah, dan
mempergunakan nikmat-nikmat tersebut untuk keridhaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﻓ ﺎﺫْﻛُﺮُﻭﻧِﻲ ﺃَﺫْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [al-Baqarah/2:152]
Sungguh tidak beradab, perbuatan mengingkari kenikmatan dan keutaman dari Rabb pemberi kebaikan. Sebagai mana tidak beradab-nya seseorang yang tidak mau mengakui kebaikan orang yang memberi kebaikan kepadanya.
- Mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dan Tidak Melupakan-Nya.
Manusia hendaklah selalu mengingat Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan tidak melupakan-Nya. Karena kewajiban hamba adalah mencintai
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kecintaan yang paling tinggi. Seseorang yang
mencintai sesuatu, dia akan selalu mengingat dan menyebutnya serta tidak
melupakannya. Orang yang melupakan Allah Azza wa Jalla , Allah Subhanahu wa
Ta’ala pun akan melupakannya; Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membiarkannya
dalam kesusahan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ
ﻓَﺄَﻧْﺴَﺎﻫُﻢْ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ۚ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” [al-Hasyr/59:19]
- Taat Dan Tidak Bermaksiat
Yaitu selalu berusaha mentaati Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan mengembalikan segala perkara yang
diperselisihkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ
ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻃِﻴﻌُﻮﺍ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝَ ﻭَﺃُﻭْﻟِﻰ ﺍْﻷَﻣْﺮِ
ﻣِﻨﻜُﻢْ ﻓَﺈِﻥ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺷَﻰْﺀٍ ﻓَﺮُﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﺇِﻥ
ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍْﻷَﺧِﺮِ ﺫَﻟِﻚَ ﺧَﻴْﺮُُ ﻭَﺃَﺣْﺴَﻦُ
ﺗَﺄْﻭِﻳﻼً
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (ulama dam umarâ’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [an-Nisâ’ / 4:59]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hambanya agar mentaati-Nya
dan mentaati Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulangi kata kerja (yakni:
ta’atilah!) sebagai pemberitahuan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara mutlak,
yaitu dengan tanpa meninjau apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
perintahkan terhadap Al-Qur’an. Jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memerintahkan, wajib mentaatinya secara mutlak, baik apakah yang beliau
perintahkan itu ada dalam Al-Qur’an atau tidak ada di dalamnya. Karena sesungguhnya beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi al-Kitâb dan yang semisalnya bersamanya”.
[I’lâmul Muwaqqi’în 2/46, penerbit: Dârul Hadîts, Kairo, th: 1422 H /2002 H]
Oleh
karena itulah seorang mukmin akan selalu tunduk terhadap keputusan Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻟِﻤُﺆْﻣِﻦٍ ﻭَﻻَ ﻣُﺆْﻣِﻨَﺔٍ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺃَﻣْﺮًﺍ ﺃَﻥ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨِﻴَﺮَﺓَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻫِﻢْ ﻭَﻣَﻦ
ﻳَﻌْﺺِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺿَﻞَّ ﺿَﻼَﻻً ﻣُّﺒِﻴﻨًﺎ
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [al-Ahzâb / 33: 36]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah
berkata: “Ayat ini umum, mencakup semua perkara, yaitu jika Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu, maka tidak ada hak bagi siapapun
untuk menyelisihinya, dan di sini tidak ada pilihan bagi siapapun, tidak ada
juga pendapat dan perkataan (yang menyelisihi ketetapan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dan Rasul-Nya)”. [Tafsîr Ibnu Katsîr, Surat al-Ahzâb /33:36]
Sungguh tidak beradab, jika ada
seorang hamba yang lemah berani menentang Penguasanya Yang Maha Perkasa dan
Maha Kuasa dengan perbuatan maksiat dan kezhaliman.
- Tidak Mendahului Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻟَﺎ ﺗُﻘَﺪِّﻣُﻮﺍ
ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻱِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ۖ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺳَﻤِﻴﻊٌ
ﻋَﻠِﻴﻢٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [al-Hujurât /49:1]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Maksudnya : ‘Janganlah kamu berkata sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, janganlah kamu memerintah sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah, janganlah kamu berfatwa sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfatwa, janganlah kamu memutuskan perkara sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memutuskan perkara padanya dan melangsungkan keputusannya.” [I’lâmul Muwaqqi’în, 2/49]
- Takut Terhadap Siksa-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨْﺸَﻮُﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻭَﺍﺧْﺸَﻮْﻥِ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﺸْﺘَﺮُﻭﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻲ ﺛَﻤَﻨًﺎ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ
“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.” [al-Mâidah/5: 44]
Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Takut itu ada beberapa macam, diantaranya
“takut” karena ibadah, merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan. Inilah yang dinamakan khauf
sirr. Ini tidak pantas kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Barangsiapa menyekutukan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Allah
Subhanahu wa Ta’ala (dengan takut ini-pent) dia adalah orang yang melakukan
syirik besar.”
Sebagai contoh misalnya takutnya
seseorang kepada wali yang berada di kubur, ataupun para danyang kali, pohon,
dan lain sebagainya, yang di yakini bisa mendatangkan manfaat dan madharat/
bencana. Bahkan keyakinan inilah keyakinan Musyrikin Quraisy dahulu.
- Malu Kepada-Nya
Seorang muslim akan selalu menyadari bahwa ilmu Allah
Subhanahu wa Ta’ala dan pengawasan-Nya itu meliputi segala sesuatu, termasuk
semua keadaannya. Oleh
karena itu hatinya penuh dengan rasa hormat dan pengagungan kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Ia malu berbuat maksiat dan menyelisihi
keridhaan-Nya. Karena bukanlah merupakan adab, ketika seorang hamba menampakkan
perbuatan maksiatnya kepada tuannya atau membalas kebaikannya dengan
keburukan-keburukan, padahal tuannya selalu mengawasinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengingatkan para sahabatnya agar benar-benar merasa malu kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam hadits:
ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ
ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
ﺍﺳْﺘَﺤْﻴُﻮﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀِ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺇِﻧَّﺎ ﻧَﺴْﺘَﺤْﻴِﻲ ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﻴْﺲَ ﺫَﺍﻙَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ
ﺍﻟِﺎﺳْﺘِﺤْﻴَﺎﺀَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀِ ﺃَﻥْ ﺗَﺤْﻔَﻆَ ﺍﻟﺮَّﺃْﺱَ ﻭَﻣَﺎ
ﻭَﻋَﻰ ﻭَﺍﻟْﺒَﻄْﻦَ ﻭَﻣَﺎ ﺣَﻮَﻯ ﻭَﻟْﺘَﺬْﻛُﺮِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﺍﻟْﺒِﻠَﻰ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ
ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓَ ﺗَﺮَﻙَ ﺯِﻳﻨَﺔَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻓَﻤَﻦْ ﻓَﻌَﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻘَﺪْ ﺍﺳْﺘَﺤْﻴَﺎ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀِ
‘Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd, dia berkata: “Rasulullah n bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar merasa malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala !” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu ( kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala )” Beliau bersabda: “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dikumpulkannya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, serta mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia akan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan ini, maka dia telah malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya [HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662; Syaikh Al-Albâni menyatakan ‘Hasan lighairihi, dalam kitab Shahîh at-Targhîb, 3/6, no. 2638,]
Disebutkan dalam kitab Tuhfatul
Ahwâdzi Syarh Tirmidzi pada penjelasan hadits ini: “Maksudnya adalah menjaga
kepala dari penggunaannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , yaitu engkau tidak sujud kepada selain-Nya, tidak shalat karena riya’,
engkau tidak menundukkan kepala untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan
engkau tidak mengangkatnya karena sombong. Dan menjaga apa yang dikumpulkan oleh kepala
maksudnya adalah menjaga lidah, mata serta telinga dari perkara yang tidak
halal.
Menjaga perut maksudnya menjaganya dari makanan yang
haram, dan menjaga apa yang berhubungan dengannya maksudnya yaitu kemaluan,
kedua kaki, kedua tangan, dan hati. Karena semua anggota badan ini berhubungan
dengan rongga perut. Adapun cara menjaganya adalah dengan tidak menggunakannya
untuk berbuat maksiat, tetapi digunakan dalam keridhaan Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Mengingat kematian dan kebinasaan,
maksudnya yaitu engkau mengingat keadaanmu dalam kubur yang sudah menjadi
tulang dalam kehidupanmu. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia akan
meninggalkan perhiasan dunia. Karena keduanya tidak akan berkumpul dalam bentuk
yang sempurna, walaupun bagi orang-orang yang kuat, sebagaimana dikatakan oleh
al-Qâri. Adapun
al-Munâwi mengatakan: “Karena keduanya seperti dua madu, jika salah satunya
dijadikan ridha, yang lain dijadikan marah”
- Bertaubat Kepada-Nya
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan
bahwa di antara sifat manusia adalah banyak berbuat dosa dan kesalahan. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﻛُﻞُّ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﺧَﻄَّﺎﺀٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺋِﻴﻦَ
ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺑُﻮﻥ
“Semua anak Adam banyak berbuat
kesalahan, dan sebaik-baik orang-orang yang banyak berbuat kesalahan adalah
orang-orang yang banyak bertaubat.”
[HR. Tirmidzi, no. 2499; Ibnu Mâjah; Ahmad; ad-Dârimi. Dihasankan oleh Syaikh
al-Albâni]
Oleh karena itu sepantasnya seorang manusia agar
selalu memperbanyak taubat dan tidak putus asa dari rahmat dan ampunan Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendorong
orang-orang musyrik yang bergelimang dengan dosa-dosa untuk bertaubat
kepada-Nya dengan firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺳْﺮَﻓُﻮﺍ ﻋَﻠَﻰٰ
ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻘْﻨَﻄُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﻤَﺔِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ
ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏَ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ۚ ﺇِﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻐَﻔُﻮﺭُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢُ
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ”[az-Zumar/39:53]
- Husnuzhan (Berbaik Sangka) Kepada-Nya.
Termasuk adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah berbaik sangka kepada-Nya. Karena merupakan adab dan prasangka yang
buruk, ketika seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia
menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengawasinya dan tidak akan
membalasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam
firman-Nya:
ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﺘِﺮُﻭﻥَ ﺃَﻥْ ﻳَﺸْﻬَﺪَ
ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺳَﻤْﻌُﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭُﻛُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺟُﻠُﻮﺩُﻛُﻢْ ﻭَﻟَٰﻜِﻦْ
ﻇَﻨَﻨْﺘُﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﻭَﺫَٰﻟِﻜُﻢْ
ﻇَﻨُّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻇَﻨَﻨْﺘُﻢْ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ ﺃَﺭْﺩَﺍﻛُﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤْﺘُﻢْ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ
“Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu, namun kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka kamu menjadi termasuk orang-orang yang merugi”. [Fushshilat/41: 22-23]
Demikian juga termasuk buruk sangka,
ketika seorang hamba melakukan ketaqwaan dan ketaatan, lalu dia menyangka bahwa
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membalas amal baiknya.
Begitu pula apabila Allah memberi ujian berupa kesusahan maka itu pasti
yang terbaik untuk kita.
Demikianlah beberapa adab terhadap
Allah Subhanahu wa Ta’ala , semoga Allah Azza wa Jalla selalu membimbing kita dan
memudahkan kita dalam kebaikan. Amin.
Semoga bermanfaat.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar