Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Riwayat Ingkarul Mungkar Ulama Kepada Penguasa Secara Terbuka

𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔 𝗬𝗔𝗡𝗚 𝗠𝗘𝗡𝗘𝗚𝗨𝗥 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗨𝗔𝗦𝗔 𝗦𝗘𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗨𝗞𝗔 Dalam catatan sejarah, kita akan menemukan begitu banyak riwayat dari para salaful ummah dan ulama-ulama setelahnya, yang dengan tegas dan berani menasehati para penguasa di zamannya secara terang-terangan.  Mereka melakukan hal tersebut karena memahami bahwa memberikan nasehat tidaklah terbatas hanya dengan cara diam-diam, melainkan boleh juga dengan cara terbuka apabila situasi dan kondisi memang menuntut hal tersebut. 𝐀𝐛𝐝𝐮𝐥𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐢𝐧 𝐀𝐛𝐛𝐚𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐤𝐫𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐀𝐥𝐢 Ketika sayyidina Ali bin Abi Thalib yang kala itu menjadi khalifah menjatuhkan hukuman bakar kepada beberapa orang murtad, Abdullah bin Abbas berkomentar bahwa hal itu bertentangan dengan syariat karena hanya Allah yang berhak menyiksa dengan api. Ibnu Abbas berkata : لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم «‌لا ‌تعذبوا ‌بعذاب ‌الله، ولو كنت أنا لقتلتهم لقول رسول الله صلى الله عليه وسلم من بدل دينه فاقت...

Menasehati Pemimpin

𝗗𝗔𝗟𝗜𝗟 𝗠𝗘𝗡𝗔𝗦𝗘𝗛𝗔𝗧𝗜 𝗣𝗘𝗡𝗚𝗨𝗔𝗦𝗔 𝗦𝗘𝗖𝗔𝗥𝗔 𝗧𝗘𝗥𝗕𝗨𝗞𝗔   Secara hukum asal dalam menasihati siapapun termasuk kepada para penguasa adalah secara sembunyi-sembunyi jika hal itu memungkinkan. Ini lebih menjaga kehormatan orang yang dinasehati, menghindari fitnah, serta meminimalkan potensi konflik. Nasehat yang disampaikan secara pribadi sering kali lebih efektif karena penguasa tidak merasa dipermalukan. Namun, nasehat juga bisa dilakukan secara terbuka jika memang dibutuhkan, terutama ketika kerusakan akibat tindakan atau kebijakannya sudah begitu jelas dan berdampak luas pada masyarakat. Dalam situasi ini, nasihat terbuka bisa menjadi sarana untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dan berikut adalah dalil-dalilnya: Dalil pertama مَا مِنْ رَجُلٍ يَرَى مُنْكَرًا فَلَا يُنْكِرُهُ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْكِرَهُ، إِلَّا أَوشَكَ أَنْ يُعَمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْ عِنْدِهِ "Tidak ada seorang pun yang melihat kemungkaran lalu tidak mengingkarinya padahal ...

Jenis Jenis حَتَّى Dalam Bahasa Arab

  Dalam ilmu nahwu huruf حَتَّى terbagi 3 jenis : 1. Huruf Jar حَرْف الجَرّ Masuk pada isim dzohir (tanpa takwil). Pada keadaan ini huruf حتّى bermakna إلَى intiha’ul goyah. Semisal firman Allah: حَتَّى مَطْلعِ الفَجْر حَتَّى حِيْنٍ Dan masuk juga حتّى ini (sebagai huruf jar) pada isim yang ditakwil dengan أنْ dan fi‘il mudhori‘ setelahnya, dimana أنْ ini disembunyikan secara wajib. Yang demikian itu tidak lepas dari 2 sisi: 2. Bermakna إلَى, semisal firman Allah تعالى Toha 91: لن نَبْرَحَ عليه عاكِفِيْنَ حتّى يرْجِعَ إلينا موسى Yaitu takdirnya حتّى أنْ يرجع. Huruf أنْ dan fi‘il mudhori‘ ditakwil pada mashdar yang sesuai, yaitu: حتى رُجُوْعِه dengan makna إلى رجوعِه Syaikh Kholid al-Azhari رحمه الله menambakan takwilan زمان, yaitu: إلى زمانِ رجوعِه. Sebab رُجُوْع mesti terdapat waktu padanya. Diantara contoh حتّى bermakna إلَى adalah sabda Rasulullah ﷺ: لا يؤمنُ أحَدُكم حتّى يُحِبَّ لأخِيْه ما يحِبُّ لنفسه 3. Bermakna كَيْ Ta’liliyah. Contohnya: أسْلِمْ حتّى تدخُلَ الجنةَ “Masuk is...

Macam macam huruf ل dalam Bahasa Arab

Pembagian huruf lam ل dalam ilmu nahwu: 1.  Lam Huruf Jar  (حرف الجَرّ) yaitu huruf yang mengejarkan isim setelahnya. Contohnya: الكتابُ لِمحمدٍ “Kitab tersebut milik Muhammad.” Lam ini difathah ketika masuk pada dhomir – semisal: لَهُ، لَهُم، لَك 2.  Lam Juhud  (لام الجُحُوْد) harus didahului oleh ما كَانَ atau لَمْ يَكُنْ atau pecahannya. Menashobkan fiil mudhori’ setelahnya dengan bantuan أَنْ yang disembunyikan secara wajib. Contohnya: ما كان المجتهِدُ لِيَرسُبَ “Seorang yang bersungguh-sungguh tidak akan gagal.” 3.  Lam Ta’lil  (لام التَّعْلِيْل) disebut juga  Lam Kay  (لامُ كَيْ) menashobkan fiil mudhori’ setelahnya dengan bantuan أَنْ yang disembunyikan secara jawazan (tidak wajib), diterjemah dengan “ agar, supaya “. Semisal: يجتهد عَلِيٌّ لِينجَحَ “Ali bersungguh-sungguh agar dia sukses.” 4.  Lam Aqibah  (لام العَاقِبة) atau Lam Shoiruroh (لام الصَّيْرُوْرة) yaitu apa yang setelah lam menjadi akibat dari sebelumnya, tanpa adanya...