Dalam ilmu nahwu huruf حَتَّى terbagi 3 jenis :
1. Huruf Jar حَرْف الجَرّ
Masuk pada isim dzohir (tanpa takwil). Pada keadaan ini huruf حتّى bermakna إلَى intiha’ul goyah. Semisal firman Allah:
حَتَّى مَطْلعِ الفَجْر
حَتَّى حِيْنٍ
Dan masuk juga حتّى ini (sebagai huruf jar) pada isim yang ditakwil dengan أنْ dan fi‘il mudhori‘ setelahnya, dimana أنْ ini disembunyikan secara wajib. Yang demikian itu tidak lepas dari 2 sisi:
2. Bermakna إلَى, semisal firman Allah تعالى Toha 91:
لن نَبْرَحَ عليه عاكِفِيْنَ حتّى يرْجِعَ إلينا موسى
Yaitu takdirnya حتّى أنْ يرجع. Huruf أنْ dan fi‘il mudhori‘ ditakwil pada mashdar yang sesuai, yaitu: حتى رُجُوْعِه dengan makna إلى رجوعِه
Syaikh Kholid al-Azhari رحمه الله menambakan takwilan زمان, yaitu: إلى زمانِ رجوعِه. Sebab رُجُوْع mesti terdapat waktu padanya.
Diantara contoh حتّى bermakna إلَى adalah sabda Rasulullah ﷺ:
لا يؤمنُ أحَدُكم حتّى يُحِبَّ لأخِيْه ما يحِبُّ لنفسه
3. Bermakna كَيْ Ta’liliyah. Contohnya:
أسْلِمْ حتّى تدخُلَ الجنةَ
“Masuk islamlah, supaya kamu masuk surga.”
Yaitu takdirnya: كَيْ تَدْخُلَها dengan makna: لِأجْلِ دُخُوْلِها
أجتهِدُ ليْلَ نهارَ حتى أنجَحَ بتقْدِيْرِ مُمْتاز
Yaitu takdirnya كي أنجَحَ
Catatan: Lafadz ليلَ نهارَ keduanya mabni fathah sebab ditarkib.
Terkadang حتّى memungkinkan bermakna إلى dan كي sekaligus, semisal firman Allah, al-Hujurat 9:
فقاتِلُوْا التي تبْغِي حتّى تفِيْءَ إلى أمْرِ الله
Pada contoh di atas memungkinkan dibawa pada makna intiha’ul goyah ataupun ta’lil. Apabila dibawa pada makna إلى, maka takdirnya: إلى أنْ تفيء. Apabila dibawa pada makna كي maka takdirnya: كي أنْ تفيء
Berkata Ibnu Hisyam al-Khadrowi dan Ibnu Malik bahwasanya حتّى bisa bermakna إلّا istitsna’iyah الاسْتِثْنائِيَّة. Contohnya:
ليس العطاءُ من الفُضُول سماحةً ** حتى تجودَ وما لديك قليلُ
“Pemberian tidaklah dengan banyaknya harta, tetapi memberi meskipun apa yang ada padamu sedikit.”
Yakni : إلّا أن تجود. Istitsna di sini adalah istitsna munqoti’.
2. Huruf Athof حرف العَطْف
Berfaidah mutlaqul jam’i, tanpa tartib dan ma‘iyah, menurut pendapat yang rojih. Pengathofan dengan حتّى mempunyai 2 syarat:
• Agar ma‘tufnya sebagian dari ma‘tuf alaih, baik secara haqiqi atau secara hukum.
• Agar yang dima‘tufkan padanya bermakna “puncak” bagi ma’tuf alaih. Yang dimaksud puncak adalah puncak sesuatu misalnya puncak kemuliaan, kehinaan atau selainnya. Contohnya:
مَاتَ النَّاسُ حتَّى الأنْبِيَاءُ
Maka “Nabi” pada contoh di atas adalah puncak dari manusia yang paling mulia.
أكَلْتُ السَمَكَةَ حتَّى رَأْسَها
Lafadz “Kepala” pada contoh di atas adalah ujung dari ikan.
3. Huruf Ibtida’ حرف الابْتِداء
Terdapat 3 keadaan:
• Masuk pada jumlah fi‘liyah yang diawali oleh fiil madhi. Semisal firman Allah al-A’rof 95, at-Takatsur 2:
حتى عَفَوْا وقالوا
حتى زُرْتم المَقابرَ
• Masuk pada jumlah fi‘liyah yang diawali oleh fiil mudhori yang marfu’. Contohnya firman Allah تعالى al-Baqarah 214, pada qiro’ah yang membaca rofa’ yaitu qiro’ahnya Nafi’:
وزُلْزِلُوْا حتَّى يقولُ الرسولُ
• Masuk pada jumlah ismiyah. Contohnya ucapan Jabir:
حَتَّى ماءُ دِجْلَةَ أسْكَلُ
“Bahkan air sungai Tigris yang keruh.”
Komentar
Posting Komentar