Langsung ke konten utama

Balak Mana Yang Harus Ditolak ???

 

TOLAK BALA’ ???

BALA’ YANG SEPERTI APA YANG MAU DITOLAK??


Kata “Bala’ البلاء terambil dari bahasa arab, yakni bentuk mashdar dari بَلَا , memiliki makna الشدائد kesulitan, baik itu kesulitan didunia dan diakhirat


Allah subhanahu wata’ala berfirman ;


كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


“Setiap yang memiliki jiwa pasti akan merasakan kematian, dan kami akan berikan ujian (bala’) dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian, dan hanya kepada Kamilah kalian akan dikembalikan” (Al-Anbiya’ 35)


Dalam ayat yang mulia diatas menunjukan bahwa Allah subhanahu wata’ala akan menguji ( memberikan bala’ ) berupa keburukan dan kebaikan. Sebagaimana hal itu juga Allah firmankan dalam ayat ayat berikut ini ;


وَبَلَوْنَاهُمْ بالحسنات والسيئات لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


“Dan Kami berikan bala’ (ujian) kepada mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al-A’raf 168)


Kebanyakan dari kita ketika berbicara tentang bala’ biasanya hanya terbesit kepada kehidupan yang susah, miskin, kemelaratan, bencana kemanusiaan dan lain sebagainya dari kesusuahan hidup didunia. Kita tidak menyadari bahwa kelapangan hidup, harta yang melimpah, negeri yang aman sentosa pun juga adalah bentuk bala’ (ujian) dari Allah.

Bahkan bala’ itu sering dikait kaitkan dengan cerita mistis, seperti dalam sebagian mitos yang berkembang ada nama nama misalnya, Kolo, ada kolo srenggi, ada Kolo mengo, ada Batara Kolo dan lain sebagainya. Yang menjadi keprihatinan kita adalah munculnya keyakinan terhadap adanya hal hal mistis kapada tokoh tokoh tersebut, keyakinan bahwa adanya kekuatan mistis selain Allah yang mampu mendatangkan bahaya dan manfaat yang mencampuri urusan pengatuaran bumi dan langit beserta makhluk yang ada didalamnya sehingga mereka takut bahkan sebagian berharap kepada tokoh mitos mistis tersebut. Tak jarang pula adanya penyembahan dan persembahan untuk mereka agar masyarakat tidak terkena bala’ (benacana) dari tokoh mistis tersebut.

Seorang muslim wajib meyakini bahwa tidak ada yang mampu mendatangkan manfaat dan madharat secara ghaib kecuali hanya Allah yang kemudian melahirkan perilaku ubudiyyah (penyembahan) kepada Allah semata dengan menjalankan ketaatan total kepada-Nya dan bukan malah tunduk dan berserah diri kepada makhluq gahib. Allah sebutkan tentang mereka yang berlindung dari keburukan kepada makhluk ghaib dalam ayat berikut ;

وَأَنَّهُۥ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ ٱلْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ ٱلْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan (kesyirikan). (Al-Jin :6)

Dalam Tafsir Al-Muyassar dijelaskan ;

Ada beberapa orang manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa jin, permintaan bantuan dari manusia kepada jin-jin itu justru membuat jin-jin tersebut menimpakan ketakutan, kecemasan dan kegelisahan yang lebih besar.’ Permohonan perlindungan yang Allah mencela orang-orang Jahiliyah karenanya ini, termasuk syirik akbar yang Allah tidak mengampuninya kecuali teubat nashuha. Ayat ini mengandung peringatan keras terhadap permintaan pertolongan kepada para tukang sihir, dukun, dan orang-orang seperti mereka.

Dalam tafsir As-Sa’di disebutkan ;

Maksudnya, orang-orang arab biasa meminta perlindungan pada jin ketika merasa takut dan gentar. Mereka menyembahnya sehingga manusia semakin membuat jin bersalah karena melampaui batas dan takabbur ketika jin melihat manusia menyembah dan meminta perlindungan pada mereka. Kemungkinan kata ganti kembali pada “jin”, artinya jin semakin menambah takut manusia ketika melihat manusia meminta perlindungan pada mereka agar mendorong mereka untuk berlindung pada jin dan berpegang teguh di atas cara itu. Itulah sebabnya, dulu bila ada seseorang melintasi lembah yang menakutkan, ia berkata “Aku berlindung pada penguasa lembah ini dari oknum-oknum bodoh dari kaumnya.”

Dalam tafsir KEMENAG RI disebutkan

Masih melanjutkan ucapan jin tersebut, "dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia di antaranya adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam masyarakatnya yang meminta perlindungan kepada beberapa tokoh laki-laki dari jin, tetapi mereka jin tersebut menjadikan mereka manusia bertambah sesat. Ada di antara orang-orang arab apabila mereka melintasi tempat yang sunyi, mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu. 7. Dan sesungguhnya mereka jin mengira seperti kamu orang kaum musyrik mekah yang juga mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun pada hari kiamat untuk dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.

 

Dari paparan diatas dapat kita ambil beberapa pelajaran dan point penting diantaranya

1. Bala’ / fitan/ mihan/ (ujian) dari Allah adalah berupa kebaikan dan keburukan

2. Bala’ berupa kebaikan berupa kelapangan hidup, rizki melimpah agar bersyukur dan tidak menyombongkan diri, bangga diri, dan berbuat aniyaya serta dzalim kepada orang lain.

3. Harta benda melimpah namun didapat dari cara yang tidak dibenarkan syariat adalah bala’ yang sangat besar karena akan mendatangkan azab yang mengerikan diakhirat kelak, padahal akhirat adalah tujuan akhir kehidupan manusia

4. Merasa takut datangnya bala’ kemudian melakukan ritual ritual yang tidak disyariatkan adalah bentuk pensyariatan (pembuatan ibadah) sebagaimana hal itu dahulu terjadi pada dukun dan tukang sihir dan hal itu termasuk bentuk kesyirikan

5. Banyaknya penipuan berkedok mendatangkan manfa’at (tambah laris, tambah sukses, tambah digandrungi atau sebalikanya biar bercerai, biar tidak laris, biar tidak sukses) adalah bentuk praktek sihir dan ketundukan kepada Jin serta bentuk perdukunan sebagaimana disinyalir dalam ayat berikut ;

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya :

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (Q.S Surat Al Baqarah ayat 102 )

Dan dalam ayat ini menunjukan secara jelas perbuatan ini adalah bentuk kekafiran (keingakaran kepada kekuasaan Allah) bagi pelaku sihir.

6. Bala’ berupa keburukan diturunkan oleh Allah agar kita bertaubat dan denganaya Allah hapuskan dan ampuni dosa selama kita bersabar dan berharap pahala dari Allah, maka keburukan itu akan menjadi kebaikan yang tak terhitung diakhirat kelak

7. Menolak bala’ yang terfokus pada keburukan duniawiy saja menunjukan ketamakan dan kerakusan manusia terhadap kehidupan dunia yang justru bisa menjauhkan hamba dari rahmat dan taufiq dari Allah, dan bahwa hal ini sering menjadi ajak rayu dan permainan para dukun, tukang sihir dan tukang tipu dari zaman ke zaman.

Sebagai penutup, mari kita awali awal tahun ini dengan memanjatkan doa kepada Allah agar Allah jauhkan kita dari bala’ berupa harta benda yang menipu sehingga kita berperilaku seperti Fir’aun dan Qarun dan Allah jauhkan dari bala’ berupa kesusahan dan kesempitan hidup yang menjatuhkan kita kepada penjualan harga diri dengan berbuat lacur, berdusta, menipu, memakan harta manusia dengan cara bathil, riba, mengurangi timbangan, bahkan yang lebih buruk dari itu semua adalah menjual aqidah kepada umat lain atau menyekutukan Allah dengan kesyirikan dan penghamabaan kepada Jin dan makhluk lain, Allahumma aamiin. Dan hanya milik Allahlah taufiq dan haidayah. Wallahu a’lam bisshawab.


Bawen 1 Muharram 1443

Dari saudaramu yang berharap kebaikan dan kebaikan untuk semua

Abi Hafsh Ibni Sukri

Ma’had Al-Ittiba’ Bawen

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Macam macam huruf ل dalam Bahasa Arab

Pembagian huruf lam ل dalam ilmu nahwu: 1.  Lam Huruf Jar  (حرف الجَرّ) yaitu huruf yang mengejarkan isim setelahnya. Contohnya: الكتابُ لِمحمدٍ “Kitab tersebut milik Muhammad.” Lam ini difathah ketika masuk pada dhomir – semisal: لَهُ، لَهُم، لَك 2.  Lam Juhud  (لام الجُحُوْد) harus didahului oleh ما كَانَ atau لَمْ يَكُنْ atau pecahannya. Menashobkan fiil mudhori’ setelahnya dengan bantuan أَنْ yang disembunyikan secara wajib. Contohnya: ما كان المجتهِدُ لِيَرسُبَ “Seorang yang bersungguh-sungguh tidak akan gagal.” 3.  Lam Ta’lil  (لام التَّعْلِيْل) disebut juga  Lam Kay  (لامُ كَيْ) menashobkan fiil mudhori’ setelahnya dengan bantuan أَنْ yang disembunyikan secara jawazan (tidak wajib), diterjemah dengan “ agar, supaya “. Semisal: يجتهد عَلِيٌّ لِينجَحَ “Ali bersungguh-sungguh agar dia sukses.” 4.  Lam Aqibah  (لام العَاقِبة) atau Lam Shoiruroh (لام الصَّيْرُوْرة) yaitu apa yang setelah lam menjadi akibat dari sebelumnya, tanpa adanya...

Profil Ma'had Al-Ittiba'

          Ma’had Al-ittiba’ adalah lembaga pendidikan Islam swasta (non pemerintah) yang terletak di lingkungan Bapang RT 01 RW 09 Kelurahan Harjosari Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Ma’had Al-Ittiba’ dirintis sejak tahun 2016, didirikan pondok pesantren pada tanggal 1 April 2017 dengan sistem kurikulum pesantren yang menitik beratkan kepada Ilmu Ilmu diniyyah namun tetap menggabungkan ilmu sains dan ilmu ilmu yang bermanfaat secara proporsional, serta pembekalan skill kepada santri dari Agrobisnis hingga keahlian kealian lain. Untuk kelulusan Ma’had Al-Ittiba’ selain memiliki standar kelulusan pesantren Ma’had juga memberikan fasilitas kelulusan program kesetaraan Paket A. B. Dan C.           Sebagai legalisasi Ma’had Al-Ittiba’ dipayungi oleh Yayasan Majelis Taklim Ilmu Amal dengan harapan agar dikemudian hari dapat memberi manfaat lebih luas kepada masyarakat sekitar serta bangsa dan negar...

Foto Kegiatan Santri

Muhadharah ummum Bandongan dan sorogan kitab Praktik perckapan bahasa Arab dan Inggris Tahfidzul Qur'an Agro edukasi Agro edukasi