ADAB NIAT
Ada dua orang melakukan shalat, orang yang pertama meraih keridhaan
Allah Azza wa Jalla sehingga dosa-dosanya gugur, sedangkan orang yang kedua
mendapatkan kecelakaan dan kemurkaan Allah Azza wa Jalla karena kemunafikan dan riya dalam hatinya.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan
keutamaan shalat yang menggugurkan dosa-dosa karena dilakukan dengan ikhlas dan
sempurna. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ
امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا
وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ
الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
Tidaklah seorang muslim yang kedatangan (waktu) shalat wajib, lalu
dia melakukan shalat wajib itu dengan menyempurnakan wudhu’nya, khusyu’nya dan
ruku’nya, kecuali shalat itu merupakan penghapus dosa-dosa sebelumnya, selama
dia tidak melakukan dosa besar. Dan itu untuk seluruh waktu.
[HR.
Muslim ]
Sebaliknya,
beliau juga memperingatkan umat dari melakukan shalat karena riya’, karena hal
ini akan menggugurkan amal, sebagaimana hadits berikut ini:
عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ
بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنْ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ قَالَ
قُلْنَا بَلَى فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي
فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
Dari Abu Sa’îd,
dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami
ketika kami sedang membicarakan Al-Masîhud Dajjâl. Kemudian beliau bersabda:
“Maukah aku beritahukan kepada kamu sesuatu yang menurutku lebih aku takutkan
terhadap kamu daripada terhadap Al-Masîhud Dajjâl?” Maka kami menjawab: “Ya,
wahai Rasulullah”. Maka beliau bersabda: “Syirik yang tersembunyi. Yaitu
seseorang melakukan shalat, lalu dia membaguskan shalatnya karena dia melihat
pandangan orang lain”.
[Hadits Hasan Riwayat Ibnu Mâjah,]
Ini merupakan
contoh nyata tentang pentingnya niat dan mengikhlaskan niat di dalam seluruh
amalan. Oleh karena itu banyak sekali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengingatkan hal ini di dalam hadits-hadits beliau. Antara lain, sabda beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِنَّمَا
اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya semua amalan itu terjadi dengan adanya niatan- niatan, dan setiap orang
mendapatkan sesuai dengn apa yang dia niatkan.
[HR. Bukhâri, dari Umar bin al-Khaththâb
Radhiyallahu anhu]
Sesungguhnya
suatu perbuatan akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla jika memenuhi dua
syarat, yaitu niat ikhlas dan mengikuti Sunnah. Oleh karena itu Allah Azza wa
Jalla akan melihat hati manusia, apakah ia ikhlas; dan melihat amalnya, apakah
sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ
لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى
قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan harta kamu, tetapi
Dia melihat hati kamu dan amal kamu.
[HR. Muslim]
Oleh karena
itulah mengikhlaskan niat merupakan perintah Allah Azza wa Jalla kepada seluruh
manusia, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama
yang lurus.
[al-Bayyinah :5]
NIAT DALAM KEBAIKAN
Di antara rahmat dan anugerah Allah Azza wa Jalla adalah bahwa Dia menulis
kebaikan hamba-Nya hanya karena keinginan untuk berbuat kebaikan, sedangkan
keinginan berbuat keburukan belum ditulis. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjelaskan hal ini di dalam hadits sebagai berikut:
إِنَّ اللَّهَ
كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ
بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً
كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ
عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ
هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً
كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً
وَاحِدَةً
“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menulis semua kebaikan dan
keburukan. Barangsiapa berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia tidak melakukannya,
Allah Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya.
Jika dia berkeinginan berbuat kebaikan, lalu dia melakukannya, Allah menulis
pahala sepuluh kebaikan sampai 700 kali, sampai berkali lipat banyaknya.
Barangsiapa berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia tidak melakukannya, Allah
Azza wa Jalla menulis di sisi-Nya pahala satu kebaikan sempurna untuknya. Jika
dia berkeinginan berbuat keburukan, lalu dia melakukannya, Allah Azza wa Jalla
menulis satu keburukan saja.
[HR. Bukhâri, no. 6491; Muslim, no. 131]
NIAT DALAM KEBURUKAN
Keinginan yang
melintas di dalam hati untuk berbuat keburukan belum ditulis dosa oleh Allah
Azza wa Jalla . Namun, jika keinginan itu sudah menjadi tekad dan niat, apalagi
sudah diusahakan, walaupun tidak terjadi, maka pelakunya sudah mendapatkan
balasan karenanya. Dalam hal ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا
الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي
النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ
قَالَ إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ
“Jika dua orang muslim bertemu dengan pedang masing-masing
(berkelahi; berperang), maka pembunuh dan orang yang terbunuh di dalam neraka.
Aku (Abu Bakrah) bertanya: ”Wahai Rasulullah, si pembunuh (kami memahami-pent),
namun bagaimana dengan orang yang terbunuh. Beliau menjawab: “Sesungguhnya dia
juga sangat ingin membunuh kawannya itu”.
[HR. Bukhâri,
no. 31, 7083; Muslim, no. 2888; dari Abu Bakrah]
Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memperingatkan bahaya niat buruk di dalam hubungan antar hamba. Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا
رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ
اللَّهَ سَارِقًا
“Siapa saja berhutang dengan niat tidak akan membayar hutang kepada
pemiliknya, dia akan bertemu Allah sebagai pencuri.”
[HR. Ibnu Mâjah, no. 2410; Syaikh al-Albâni berkata: “Hasan
Shahîh”]
PAHALA DAN SIKSA KARENA NIAT
Kedudukan niat
yang sangat penting juga dapat dilihat dari akibat yang dihasilkannya. Yaitu
bahwa sekedar niat, seseorang sudah mendapatkan pahala atau siksa. Hal ini
diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut
ini:
عَنْ أَبِي
كَبْشَةَ الأَنَّمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الدُّنْيَا ِلأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ
اللَّهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ
وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ
رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ
يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ
فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا
فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلاَ
يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ
الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ
يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ
بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
“Dari Abu Kabsyah al-Anmâri Radhiyallahu anhu, bahwa dia mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu
untuk 4 orang: Pertama Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan rizqi
kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian
dia bertaqwa kepada Rabbnya pada rizqi itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik
kepada kerabatnya dengan rizqinya, dan dia mengetahui hak bagi Allah Azza wa
Jalla padanya. Maka hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi
Allah Azza wa Jalla ). Kedua Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan
rizqi kepadanya berupa ilmu, namun Dia tidak memberikan rizqi berupa harta, dia
memiliki niat yang baik. Dia mengatakan: “Seandainya aku memiliki harta aku
akan berbuat seperti perbuatan si fulân (orang pertama yang melakukan kebaikan
itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang
pertama dan kedua) sama. Ketiga Hamba yang Allah Azza wa Jalla berikan
rizqi kepadanya berupa harta, namun Dia tidak memberikan rizqi kepadanya berupa
ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia
tidak bertaqwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya
dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allah Azza wa Jalla padanya. Maka hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi
Allah Azza wa Jalla ). Keempat Hamba yang Allah Azza wa Jalla tidak memberikan rizqi
kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya aku
memiliki harta aku akan berbuat seperti perbuatan si fulân (dengan orang ketiga
yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa
keduanya sama”.
[HR. Bukhari]
Kesimpulanya
hendaklah kita memperhatikan niat kita dalam setiap aktifitas kita, jangan
sampai kita termasuk orang yang merugi, yang amal perbuatanya tidak bernilai
pahala di sisi Allah bahkan mendatangkan murka Allah dikarena ketidak ikhlasan
kita dan tidak mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Semoga Allah berkenan mendatangkan manfaa'at.
Al-Ittiba'
Komentar
Posting Komentar